Probolinggo, 17/05/2018
Yang Ada Itu Istimewa
Ainul Yakin
Banyak orang terlena dengan fasilitas dan kenyamanan yang dimilikinya. kenyamanan tersebut bisa berupa kesehatan, kekayaan, rumah, anak dan istri. Fasilitas hidup yang melimpah ruah sering kali membuat orang terlena sehingga lupa makna kehidupan yang sebenarnya. Saat kita diberi kebahagiaanan seperti kesehatan dan kecukupan seakan-akan kita tidak merasa jika kesehatan yang ada pada kita adalah pemberian dari Allah yang tidak selamanya ada pada diri kita. Pada saat yang lain bisa saja Allah mencabutnya. Sehingga disaat kita sehat atau mendapat kecukupan selalu menuntut lebih tanpa memanfaatkan kelebihan tersebut dengan semaksimal mungkin. Bahkan kita meminta kanyaman hidup yang lain seperti kendaraan mewah, rumah yang besar dan seterusnya.
Terlena, mengapa terlena? Banyak faktor yang menyebabkan orang terlena dalam hidupnya. Salah satunya adalah selalu melihat orang lain yang seolah-olah lebih nyaman dari dirinya. Padahal jika kita hayati dan menikmati yang ada, tanpa menuntut lebih, yang kita jalani saat ini sebenarnya sudah cukup nyaman dan membuat kita bahagia. Sebab kebahagiaanan yang sebenarnya bukan ada pada fasilitas hidup, seperti kesehatan, kekayaan, rumah mewah, mobil baru, istri cantik dan setersunya.Tapi kebahagiaanan itu melekat pada diri kita masing-masing, pada diri dan jiwa kita. Pertanyaannya tergantung sejauh mana kita dapat menikamati apa saja yang melekat pada diri kita saat ini. Jika yang melekat saja tidak dihayati dan diresapi, maka hampir tidak mungkin dapat menikmati yang jauh. Itulah fatamurgana. Seolah-oleh yang jauh di sana ada kebahagiaan dan kenikmatan padahal jika telah sampai, pada akhirnya sama saja. Biasa-biasa saja.
Banyak orang yang menempelkan kebahagiaanan hidunya kepada harta, tahta, jabatan, sehingga rela mengejarnya tanpa klimaks. Bahkan hampir tidak kenal waktu, siang malam terus bekerja berjam-jam di kantor hanya untuk memenuhi hasrat kekayaan sehingga lupa untuk berbuat yang lebih berarti dalam hidupnya. Padahal jika kita menoleh sedikit, misalnya berkumpul dengan keluarga, dengan senyum tulus anak-anak, shalat berjamaah, makan bersama, hidup tidak punya hutang dengan fasilitas yang pas-pasan, itu kenikamatan yang luar biasa yang tidak bisa ditukar dengan uang jutaan, bahkan jabatan apa pun. Itu anugerah yang istimewa dari pada menghabiskan waktu di tempat kerja dengan kesibukan yang tak berujung.
Memang, kadang kala disaat kenikamatan yang setiap saat itu ada, dan sifatnya rutin seolah-olah hal itu bukan lagi dirasakan sebuah anugerah dan bahkan terasa kurang berarti dalam hidup kita. Mengapa? Karena kita selalu menoleh dan melihat ke atas. Kadangkala lupa untuk melihat ke dalam diri sendiri. Padahal yang rutin dan yang biasa-biasa itu sebenarnya nikmat yang besar dalam dunia ini. Cuma masalahnya kita jarang sekali menjiwai dan mengahyatinya. Kebahagiaan bukan persoalan fasilitas hidup. Kebahagiaan hidup sejatinya persoalan diri dan sifatnya proporsional. Orang yang punya kekayaan yang melimpah, jabatan yang tinggi, rumah mewah, porsi kebahagiaannya pun sama dengan mereka yang secara ekonomi biasa-biasa saja. Bahkan lebih susah mereka yang berlimpah kekayaan ketimbang mereka yang pas-pasan, karena tuntutan dan gaya hidupnya yang semakin tinggi.
Memang fasilitas hidup yang memadai jadi pendukung kenikamatan. Tapi ia tetap sebagai pendukung bukan inti kebahagiaan. Aritnya tanpa pendukung yang melimpah sekalipun, kebahagiaan hidup tetap dapat dicapai. Caranya? Ini hanya persoalan cara pandang. Mereka yang menghargai sekecil apa pun yang melekat pada dirinya, akan lebih bahagia dan merasa lebih nikmat hidupnya dari pada mereka yang didukung fasilitas hidup yang melimpah tapi tak pernah merasa cukup. Fasilitas hanyalah atribut hidup, yang menempel pada diri kita, ia tetaplah atribut, kulit luar, intinya ada di dalam diri, pikiran dan jiwa kita. Tinggal bagaimana kita mengolahnya sehingga yang ada, yang biasa-biasa menjadi sebuah anugerah yang istimewa dan penuh arti. Sejatinya, segala yang ada adalah istimewa.
Rabu, 26 September 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Yang Ada Itu Istimewa
Probolinggo, 17/05/2018 Yang Ada Itu Istimewa Ainul Yakin Banyak orang terlena dengan fasilitas dan kenyamanan yang dimilikinya. kenyaman...
-
Permainan Tuhan Mengapa kebaikan hrs diperjuangkan? Potensi manusia untuk berbuat kerusakan lbh besar dr pd potensi untuk berbuat kebaika...
-
Probolinggo, 2017 Perpu Ormas dan Masa Depan Demokrasi Kita Ainul Yakin* Tulisan ini tidak sedang membela Organisasi Mayarakat (Orma...
-
Pebruari 2016 Radikalisme dan Ancaman Keutuhan Bangsa Oleh: Ainul Yakin* Keutuhan bangsa mutlak harus kita perjuangkan. Memperjuangkan k...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar